Pedoman Ilmiah Membeli Mainan untuk Anak

Sampai kapan pun mainan adalah sesuatu yang sangat menarik minat anak-anak.  Yang menjadi pertanyaan kemudian:  apakah semua mainan itu pasti punya nilai manfaat,  khusus bagi tumbuh kembang kejiwaan anak-anak ?   Tentu saja tidak.   Lalu  mainan seperti apa yang selayaknya menjadi pilihan orang tua untuk diberikan atau dihadiakan anak-anak ?

Jawaban atas pertanyaan ini bisa dilihat dari  usulan diberikan dalam  laporan dari American Academy of pediatrics yang dipublikasikan Januari 2019. Ditulis oleh dokter spesialis anak Healey dan Mendelsohn.  Laporan tersebut menunjukkan adanya tren pemilihan mainan digital. Namun dalam laporan itu juga dinyatakan perlunya  dimunculkannya lagi mainan-mainan tradisional.

Topik  mengenai mainan digital versus  mainan tradisional menjadi diskusi yang populer di kalangan penggiat pendidikan anak-anak. Yang paling sering disoroti adalah pengaruh media atau mainan digital dalam menghilangkan permainan berbasis interaksi antara orang tua dan anak-anak.  Di sisi lain,  klaim para produsen mainan digital bahwa mainan mereka memberi efek positif terhadap tumbuh kembang anak ternyata tidak didudukung bukti ilmiah.

Sedangkan  efek negatif dari mainan digital justru sangat sering disebut.  Salah satunya,  mainan digital makin mengurangi aktivitas-aktivitas motorik kasar anak-anak.  Anak-anak cukup bermain lewat mainan digitalnya sambil bersandar nyaman di sofa atau tempat tidurnya.  Sehingga aktivitas fisiknya memang sangat berkurang.

Sehingga makin menguat suara-suara yang menyatakan tentang perlunya memunculkan dan mendekatkan lagi mainan tradisional di hadapan anak-anak.  Yang kemudian perlu diperhatikan adalah kualitas positif apa saja dalam mainan tradisional yang perlu menjadi pedoman dalam memilihkan mainan untuk anak-anak.

  1. Mainan yang bisa menguatkan keterampilan motorik halus

Mainan   yang mendukung tumbuh kembang dalam hal keterampilan motorik halus  seperti  ketangkasan jari, keluwesan sendi tangan dan lain-lain.   Mainan seperti ini mengharuskan anak-anak  menggenggam,  memegang  atau mengotak-atik  obyek. Misalnya mainan menyusun balok,  merangkai puzzle atau bermain boneka tali

  1. Mainan yang menstimulasi imajinasi

Ada mainan yang membuat anak bisa memainkan peran seseorang atau sesuatu.  Mainan seperti mobil-mobilan akan membuat anak-anak berimajinasi tentang sebuah mobil yang sedang berkendara di tempat tertentu dengan penumpang-penumpang sebagai bagian dari imajinasi.  Begitu dengan bermain boneka tangan atau boneka tali,  anak-anak berpura-pura menjalan peran apapun yang bisa merangsang imajinasinya.  Anak-anak menjadi bisa menciptakan dunia baru versinya sendiri lengkap dengan ceritanya.

  1. Mainan yang merangsang kreativitas

Anak-anak sangat suka menikmati aktivitas menggambar dan mewarnai. Dalam tingkat tertentu ketika anak-anak merasakan kebebasan untuk mengeskspresikan bentuk dan warna tanpa ada rasa takut untuk disalahkan maka ini merupakan situasi yang mampu mendorong kreativitas anak-anak.   Berbagai benda dan mainan bisa menjadi obyek untuk diwarnai dan digambar.  Termasuk kegiatan mewarnai dan menggambar boneka kayu.

  1. Mainan yang membantu pembelajaran kognitif dan sosialnya

Papan bermain (seperti ular tangga,  halma, dll)   dan kartu  (kwartet, remi)  sangat berguna dalam mengajarkan anak-anak mengenai konsep matematika,  memperkuat kemampuan pemecahan masalah, dan meningkatkan kecakapan sosialnya karena harus berinteraksi atau bekerja sama dengan teman yang lain..  Kecakapan sosial merupakan bagian dari kecakapan hidup yang sedang digiatkan melalui kurikulum 2013

  1. Mainan yang mendorong aktivitas fisik

Banyak mainan, khususnya mainan berbasis media digital,  tidak mendorong dilakukannya gerakan fisik. Permainan-permainan yang kurang gerak sering dianggap  sebagai penyebab dari berbagai poblem kesehatan seperti obesitas.  Mainan mestinya  memberikan cukup kesempatan untuk pengembangan kemampuan motorik kasar.   Mainan-mainan yang menuntut adanya aktivitas fisik misalnya  mobil-mobilan yang harus digerakkan dengan mendorong dan menarik,   sepeda dan sepeda roda tiga, permainan  bola,  lompat tali,  juga boneka tali (untuk melakukannya anak harus trampil menggerakkan badan dan tangannya)

Secara garis besar mestinya mainan itu mendorong terciptanya komunikasi dan kedekatan antara anak dan orang tua.  Mainan juga mestinya memperkuat interaksi sosial antara satu anak dengan anak lain. Laporan ini pada akhirnya memberi kata penutup bahwa “kadang-kadang mainan yang paling sederhana lah yang terbaik”  karena  “mainan-mainan sederhana tersebut memberi kesempatan dan ruang bagi anak untuk berimajinasi dalam menggunakan mainan tersebut”.    Jangan sampai justru mainan itu yang mendikte anak-anak

“Marionette on The Weekend” di Pejaten Villige,26 – 28 Oktober 2018

Haci Agency dengan bangga menyelenggarakan sebuah event bertajuk “Marionette on The Weekend”. Untuk pertama kalinya ada sebuah event pertunjukan boneka marionette dengan karakter yang khas Indonesia. Acara ini mendapatkan sambutan sangat baik dari kalangan sekolah, para orang tua dan anak-anak. Selama 3 hari total ada 5 sesi pertunjukan. Di setiap pertunjukan selalu didahului dengan kegiatan menyanyi,menari dan games menarik. Di samping itu ada kegiatan workshop membuat marionette kain. Dengan penuh semangat teman-teman dari SD Strada Pejaten, SD Bhakti Tugas, SD Pelita, SD Al Azhar Shifa Budi Kemang dan SD Negeri 05 Jatipadang mengikuti workshop ini hingga tuntas. Di acara puncaknya adalah pertunjukan marionette NanoNani dengan judul “Nano Menolong Burung.” Anak-anak tampak tak bergeser dari posisi duduknya selama pertunjukan berlangsung. Sebagian berusaha maju ke depan untuk berdekatan dan bahkan memegang boneka marionette. Setelah selesai pertunjukan anak-anak ramai berfoto bareng dengan karakter-karakter NanoNani, yaitu: Nano, Nani, Amomo, Paman Bonbon, Opah Kirmin dan Oraken.